Sehimpun Rasa sepanjang Serpong – Pondok Ranji

Di kereta Serpong – Tanah abang

kamu bisa melihat kasih dimana-mana

keluarga yang melakukan swafoto dengan sang bayi

individu yang melamun kosong pada layar gawai pintarnya

sayup-sayup terdengar pemberitahuan dalam dua bahasa

sunyi senyap

semua dihempaskan dalam pikirannya masing-masing

atau refleksi pada kejadian hari itu


Sudimara

berapa banyak keluhan yang ia tampung

dari muka pekerja yang terantuk mengusap keringat

dari muka pelajar yang merutuki nilainya

dari muka pedagang yang mencari sehimpun rupiah

berapa banyak rasa yang ia tampung

gerbong entah keberapa

jariku terus menerus mengetik keyboard di laptopku

pikiranku terbagi ke beberapa cabang

tak bisa berpikir linear

buncahan ketakutan menggelegak di dalam dirinya

andai aku menjadi Marlina,

andai aku dapat melawan ketakutanku dalam kesunyian

lagi-lagi Sudimara

15.39 kereta ini berhenti di stasiun sudimara

masih membutuhkan 3 stasiun lagi untuk benar-benar tiba di Jakarta

kelabu menggelayuti mega

siap menebarkan bibit rahmat

untuk menyenangkan sang penulis amatiran

yang baru belajar menulis dan menjadikan ia subjeknya

siap menebarkan kelam baru

bagi ia yang membutuhkannya untuk mengasosiasikan rasa yang ia rasakan

berkawan dengan dingin yang siap merasuki menelusuri setiap jengkal kulit

untuk menghadirkan rasa penting bagi segelas cokelat hangat

yang akhirnya merasa bahwa keberadaannya penting bagi sang gadis

yang memeluk dirinya dan menatap kosong jendela di rumahnya

melacurkan diri atas nama kenangan

—beranjak ke Jurangmangu

sebelum aku melacurkan diri pada khayalku yang dibalut playlist di platform musik daring

aku mengira-ngira

apa ya yang akan ku tulis

akhirnya kutulis

sederet aksara yang maknanya pun tak mengerti

begitupun kala kamu membacanya

yang menurutmu ini hanya aksara yang dirangkaikan

bukankah begitu?

—menuju Pondok Ranji

deru kereta melaju menelusupi indra pendengar

“sesaat lagi kereta anda akan tiba di stasiun pondok ranji”

ucapan di kereta itu mengakhiri sederet aksara ini

Advertisements

Lacur terjadi perkara itu

Kelam sunyi membebat benak

Bagai makan soto ayam yang rasanya hambar

Walaupun telah diguyur 1 peras jeruk nipis, ditambah 1 sendok sambal dan tuangan kecap yang diputar searah jarum jam

 

Tulisan yang dibuat dalam rangka menunggu kereta terakhir menuju kota pinggiran lain.

Sesungguhnya saya tidak benar-benar punya banyak teman di FISIP. Tetapi, ada satu hal yang menjadi ruang 19, zona nyaman, atau ruang kecil ya, bingung sih menyebutnya apa. Ada satu kantin yang dalam bisunya kerap menghimpun percakapan dan impian yang paling liar sekalipun, ataupun resah yang dibenamkan baik secara paksa maupun dalam diam. Ada satu tempat yang paling membebaskan di dekat kantin ini, di salah satu amphiteater terbuka.

Pertama kali menjejaki teater kolam tersebut rasanya diam saya ingin membuncah, meledak. Biasanya menyinggahi tempat tersebut untuk keperluan menonton pertunjukan teater, atau menghadiri rapat divisi entah kepanitiaan atau organisasi. Ingat betul, waktu itu diajak oleh Kak Iik untuk ikut membacakan puisi secara sukarela. Informasi itu bisa dibilang beredar secara bawah tanah.

Saya kerap membacakan puisi saya secara mentah, karena saya kerap menulisnya saat perasaan saya sedang membuncah dan hendak meledak. Kikuk bukan barang baru, ia menjadi akrab dalam diri saya. Tapi ruang ini entah kenapa membuat saya nyaman untuk menyampaikan tentang rasa membuncah. Terima kasih Rabu Lila.

Akhirnya malam ini, si kikuk ini, setelah tenggelam sebulan dalam tangis yang tak kunjung reda, kembali ke rumahnya.

 

 

 

Ruang (19)?

Makin kesini, saya makin sadar bahwa semua orang membutuhkan ruangnya masing-masing. Ada beberapa ruang yang saya punya untuk saat ini; gerbong kereta api komuter, koridor gerbong bis Transjakarta, dan kamar saya yang saya selalu matikan lampunya setelah jam 12 malam. Saya baru menghargai pentingnya ruang untuk saya sendiri kala saya sudah cabut dari kamar berukuran 3×4 di belakang stasiun sana. Saya kehilangan ruang untuk melakukan dialog dengan diri saya sendiri. Rumah saya terlalu asing bagi saya, hingga saat ini rumah bagi saya hanyalah tempat singgah secara fisik. Terlalu banyak kebencian satu sama lain yang tidak terungkap di dalamnya.

November ini bisa dibilang bulan yang tidak mudah untuk dilalui. Kadang, saya mengutuk diri saya sendiri. Mengapa bisa saya melalui terowongan gelap yang ujungnya tidak saya ketahui, seorang diri, lagi? Terowongan kali ini tidak berat-berat amat sebenarnya untuk dilalui, saya masih bisa melalui hari-hari seperti biasanya. Tapi, saya selalu menemukan diri saya menangis di pojokan kamar, sampai sesak, di malam yang sepi, sampai saya menyadari satu hal. Ada hal yang belum selesai.

Mengutip seorang teman yang pernah mencuit pemikirannya, mungkin ini bentuk konformitas saya dalam berdialog dengan orang lain, maksudnya dengan menulis sepotong hal ini. Saya menyadari bahwa begitu banyak amarah yang saya pendam, kutukan saya kepada orang yang tak pernah sampai – bentuk konformitas saya atas kesialan hidup saya, kesedihan yang saya tahan, ketakutan yang membuncah, kecemasan yang tak kunjung hilang, pikiran yang terus bergulir seperti bola api liar, dan banyak hal lagi.

Tetapi, dengan menulis ini sebagai bentuk pengakuan, bukankah hal terbaik yang saya lakukan untuk saat ini? Bukankah mencintai diri sendiri itu, harus menerima baik dan buruknya diri kita masing-masing?

Ada satu kesimpulan menarik dari ulasan mengenai novel “To Room 19” nya Doris Lessing yang diucapkan oleh tokoh dalam suatu drama, “it’s easier to explain that you are crazy rather than you are miserable” . Saya percaya, di dalam ruang 19 yang kita miliki saat ini, pasti kita bergelut dengan diri kita masing-masing. Ruang 19 itu bisa ada di mana-mana. Ia hadir untuk menjadi ruang kita bebas bercakap-cakap dengan diri kita sendiri. Setidaknya, dengan menciptakan ruang 19 kita masing-masing, kita menjadi berani setidaknya untuk melangkah satu langkah saja,

 

Diselesaikan di Tangerang Selatan dan Depok. 15:24

 

Kapan kita akan mengetahui waktu untuk menyerang dan bertahan?

Bagaimana mekanisme pertahanan diri yang terbaik? Aku rasa aku belum menemukan jawaban dari pertanyaan ini.

These question are bothering me in these days, it always popping out in my mind.